Pesona Raja Ampat yang tidak ada habisnya.
Kadang saya sempat berpikir kenapa tidak dari dulu kita semua tahu keindahan Raja Ampat, kenapa baru akhir-akhir ini beberapa tahun belakangan ini, kita semua baru tersadar & terbuka mata bahwa ada tempat seindah ini di Papua, yang jauh di ujung timur indonesia.
Atau hanya saya kah yang berpikiran seperti itu, sepertinya tidak.
Saya sedikit berbagi pengalaman alias cerita menarik mengenai Raja Ampat, tahun 2009 seingat saya, ketika waktu itu saya masih bekerja di salah satu perusahaan swasta di Kota Sorong, tepatnya Astra Motor Sorong, saya & beberapa teman hendak pergi berlibur ke Raja Ampat, kami pun mempersiapkan diri dengan beberapa keperluan, kami sama sekali belum pernah ke sana, kami hanya baru mendengar kalau disana indah, pokoknya bagus lah, kalau kata orang-orang yang pernah kesana.
Kami membayangkan disana masih pulau terpencil, tidak ada warung makan, atau pun kios alias warung kelontong, kami pun membeli sembako lah singkatnya, ada beras, minyak kelapa, bumbu-bumbu dapur, kangkung pun ikut meramaikan persedian bahan makanan, tak lupa saya dan yang teman-teman cowok yang lain juga membeli persedian rokok untuk semalam di sana.
Kami ber sepuluh kalau tidak salah waktu itu, ada Mbak Nur, Mbak
Fina, Bang Tufri, Abang Adnan Kamek ( kepala mekanik ),
Kak Safar, Bang Hudson, Bang Hasan, Oiya hampir lupa S.O. Head kami Pak
Max Budi Utama dan PSM alias Piet Suyanto Manda, dan saya sendiri si ganteng dari gua hantu, hehe.
Jadi kami semua yang berangkat ini tahunya di sana tidak ada sarana dan prasarana lah istilahnya. Berangkat kami pun sempat mengalami insiden pada teman kami Rian Oei beserta istri yang seharusnya juga ikut berlibur bersama kami, dia jatuh dari motor saat berboncengan dengan istrinya, pas waktu jalan bersama dari arah kantor menuju pelabuhan, singkat cerita Rian tidak bisa ikut karena mengalami insiden kecil tersebut. Maaf Bang Rian, the show must go on.
Di pelabuhan kami langsung menaiki kapal cepat, semacam Feri kecil lah, kapasitas dua ratusan orang lah. Kami menuju Waisai, dan kemudian berakhir di Pulau Saonek. Tujuan berlibur kami. Turun dari kapal menuju daratan Saonek, alangkah terkejutnya kami, ( yah tidak terlalu terkejut sih ) cuma gak nyangka aja, ternyata di sana pas di depan gapura masuk ada Warung Nasi dan di tempat menginap pun ternyata disebelah kanannya ada kios / warung kelontong yang menjual sembako dan aneka makanan lainnya, rokok juga tersedia, bahkan herganya relatif sama dengan harga di Kota Sorong tempat tinggal kami.
Bayangkan pemirsa, ( diam sejenak dan bayangkan..... ) jangankan anda yang jauh di pulau lain di belahan indonesia ini, kami pun yang ibaratnya masih tetangga dengan Waisai, bahkan se-kabupaten dulu dengan Sorong sebelum pemekaran tahun 2007 lalu, menjadi Raja Ampat, kami buta dengan keadaan disini. Kalau tahu di sini ada kenapa kami harus bawa jauh-jauh dari
Sorong apalagi itu sekarung beras, kan berat bawanya.
Maka wajar menurut saya jika dulunya saya waktu ke Jogja sekolah di tahun 2002. selalu ditanya yang aneh-aneh, di Sorong ada komputer gak ?, ada mall gak ? Ada radio gak
?... apalah pokoknya yang bikin saya sedikit bahkan hampir banyak, emosi. Yang paling menyakitkan itu ketika ditanya "kamu disana makan nasi juga gak?". Jengkel memang, cuma terkadang saya berpikir memang inilah realitanya, informasi yang kurang atau mungkin belum terlalu gencar-gencarnya internet seperti sekarang, setiap orang pegang gadget nya masing-masing, by the way itu di 2002, kalaupun sampai di 2016 ini ada orang dari belahan bumi Indonesia ini yang masih mengdiskreditkan atau belum tahu banyak soal Indonesia timur, Papua khususnya, mari kita sama-sama pertanyakan ( tanya kenapa ? ) kalau kata iklan rokok, tidak perlu lah anda tahu banyak, paling tidak anda tidak menggeneralisir bahwa Papua itu Koteka, dan Papua itu pedalaman. ( maaf saya pakai kata
"anda" disini, soalnya pembahasannya sudah mulai berat nih
) hehe
Tetapi ada sedikit cerita juga dari teman saya yang dari Lampung,
Angga namanya, ada saudaranya yang dari Jakarta mau diajak main ke Lampung, terus kata ibunya " jangan ah, maen ke Lampung nanti ke injek gajah " waduh, repot.
Iya memang
Lampung terkenal dengan gajahnya, tapi masa iya se-kota isinya gajah semua.
(becanda mungkin si
Ibu
). Apa memang kita yang sibuk dengan daerah atau tempat masing-masing sampai lupa dengan informasi mengenai daerah tetangga, atau mungkin dampak dari informasi di TV yang banyak tertutupi dengan sinetron, atau acara gosip, atau mungkin kita nya sendiri yang tidak mau peduli, atau disinilah kita bisa lihat & menilai seberapa efektifnya pelajaran Geografi di sekolah. Atau kah kurikulumnya yang hanya menekan kan masalah budaya dan adat istiadat, tanpa meng-update perkembangan wilayah.
Inti dari tulisan ini saya mengajak teman-teman dan saudara-saudara sekalian untuk berbagi informasi, agar teman-teman dibelahan ( kenapa harus belahan ya ? ) oke kita ganti dengan bagian, jadi dibagian Indonesia lainnya, bisa tahu perkembangan di daerah lain, jangan cuma kita bagi-bagi foto orang kecelakaan, orang mati, atau foto-foto atau tulisan yang berbau SARA.
Oke Terimakasih.
Salam Damai,
MIU
NB : ini sedikit saya bagikan Foto-foto hasil jepretan salah satu tamu tur kami, Ibu Yosepha Ichdawati. Bagus-bagus.( ijin ya
Bu, fotonya saya share dikit )
Yang betul itu kejadian nya 2008 akhir.. Kalau 2010 saya sdh di timika .. Tapi asik ini cerita mantap .. Hahaha..
BalasHapusYang betul itu kejadian nya 2008 akhir.. Kalau 2010 saya sdh di timika .. Tapi asik ini cerita mantap .. Hahaha..
BalasHapusOh iya abang siap, nanti saya koreksi.
Hapus