DILARANG BUANG SAMPAH SEMBARANGAN.
Kadang lebih halus menjadi " Buanglah sampah pada tempatnya ". Satu kalimat yang sering sekali kita dengar bahkan banyak sekali kita lihat tulisan ini, mulai dari tempat sampah, tembok-tembok di tempat umum, di dalam kamar mandi / toilet umum, di papan yang ditulis di pinggir jalan, iya memang harus dipinggir jalan karena kalau di tengah, bisa ketabrak mobil. Kalimat ini akrab sekali di mata kita, di tempat sarana umum banyak juga. Jadi kadang sekedar menjadi penghias atau pelengkap saja.
Kalimat ini kadang bertranformasi menjadi jagalah kebersihan, kebersihan sebagian dari iman, sampai ke tingkat yang lebih ekstrim menjadi Hanya monyet yang buang sampah disini, monyetnya kadang diganti dengan binatang-binatang lainnya, seperti anjing, babi, dan lain-lain. Jarang sih jadi kucing, ayam, bebek, mungkin karena jarang jadi kalimat makian. Berharap yang buang sampah disitu tersinggung, dan tidak jadi buang sampah lagi. Tapi sepertinya tetap saja ada sampah.
Belum lama ini saya baca disebuah artikel, ada komunitas pendaki dari luar negeri yang kegiatan bersih-bersih mengangkat sampah dari gunung Rinjani, alangkah mirisnya, kenapa harus orang luar, bukan kita sendiri. Kalau dulu orang luar datang untuk menjajah negeri kita, malah sekarang mereka yang punya kepedulian kita untuk menjaga alam kita agar tidak kotor dan rusak.
Tulisan ini saya buat untuk kembali mengingatkan saya khususnya dan umumnya untuk teman-teman pembaca sekalian. Bahwa ini hal sepele tapi tidak bisa kita sepelekan, hal kecil yang berdampak besar, mari kita renungkan bersama ( diam sejenak sambil merenung).
Ada beberapa pengalaman saya yang menarik mengenai bersih-bersih. Beberapa bulan yang lalu saya mengantar tamu dari Jakarta untuk tur keliling Raja Ampat, adahal yang menarik saat itu, selain tentu saja mereka terpukau dengan keindahan alamnya, salah satu tamu yang biasa dipanggil Koh Awi, dan hampir semua dari mereka merasa miris juga melihat sampah-sampah yang ada di Pyainemo, salah satu ikon baru di Raja Ampat, di puncaknya banyak, memang sih tidak terlalu banyak, tapi ada. Dari botol-botol plastik sampai kertas-kertas yang dipakai untuk menulis kata-kata salam / ungkapan kepada teman-teman yang belum sempat pergi kesana. Yang sekarang sedang trend di medsos. Kalau kita pikirkan lagi, apa beratnya sih sampah-sampah itu dibawa turun kemudian ditaruh di tempat sampah yang sudah disediakan, atau dibawa balik lagi, taruh di tas atau disaku masing-masing.
Lanjut ke Koh Awi tadi beliau mengangkati sendiri itu sampah-sampah yang berserakan di puncak Piaynemo, kami pun semua tegerak dan mulai membantu mengangkati sampah tersebut. Beliau berkata kurang lebih seingat saya, "tempat ini bagus sekali, saya sudah sering keluar negeri, tapi tidak ada tempat seindah ini, kalian harus jaga". Dengan semangat yang menggebu-gebu beliau berbicara. Sampah yang tadi kita angkat lalu kami bawa kembali ke speedboat, dan lalu kami buang di resort tempat kami menginap. Hal kecil memang tapi berdampak besar bagi saya.
Sampah puntung rokok misalnya, kecil memang tapi tetap sampah, harus kita buang ke tempat sampah, atau bisa kita selipkan di plastik pembungkus rokoknya, seperti yang saya pernah lihat di Raja Ampat, pemandu speedboat kami, si bule panggilan akrabnya, maklum karena rambutnya dicat pirang. Puntung rokok tidak dia buang sembarang, ke laut tapi diselipkan di plastik pembungkus rokoknya. Luar biasa menurut saya, hal kecil, sederhana sekali tapi belum tentu kita bisa lakukan.
Bahkan dulu waktu di bandara di Makassar, Sultan Hasanuddin. Saya ketemu dengan bule ( bule beneran kalo yang ini ), yang bawa asbak sendiri bahkan, untuk menaruh sisa puntung rokoknya, ketemunya saat sama-sama sedang transit, di smoking room lantai 2, yang sepertinya sekarang ruangan tersebut sudah dibongkar, sama halnya dengan di Bandara Soeta.
Marilah kita dari sekarang untuk sama-sama sadar, kita mulai dari diri kita sendiri, dari hal-hal yang kecil. Bungkus permen, puntung rokok, dan sampah-sampah kecil kita kantongin saja jangan buang sembarangan, botol plastik air kemasan, kita remas dan gulung kecil-kecil dari dasar botolnya, ilmu yang saya dapat dari Koh Awi, biar tidak terlalu makan tempat si botol airnya, jadi lebih kecil. Saya lihat pada saat kami di dalam speedboat. Saya jadi ingat kata-kata dari Aa Gym :
" MULAI DARI HAL-HAL KECIL, MULAI DARI KITA SENDIRI, & MULAI DARI SEKARANG. "
Terima kasih, Salam damai & jaga kebersihan
MIU 5F557154
Tidak ada komentar:
Posting Komentar